Branda

Saya senang menyambut Anda di Gereja Baptis Alkitabiah, Jakarta Utara (Sunter). Kerinduan kami adalah menjadi seperti Tuhan dan juruslamat kita Yesus Kristus dan membawa orang lain untuk mengenal dan bertumbuh dalam kebenaran. Kami memahami Alkitab secara sederhana (Kata perkata, keseluruhan, sejarah dan tata bahasa). Kami percaya Alkitab adalah jawaban atas semua pertanyaan dalam kehidupan. Saya mengundang Anda untuk belajar dan bertumbuh bersama untuk kemuliaan-Nya.

WA: 081220411850 / 081808620079

http://www.Alkitabiah.org http://www.matikemana.com

Empat pandangan agama.

Di sini kita akan melihat posisi “Gereja Baptis Alkitabiah” mengenai empat pandangan agama dalam memandang kebenaran. Saya ajak Anda melihatnya dan sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, dimana seharusnya posisi Anda?

1. Pluralisme. Pluralisme adalah pandangan yang mengatakan bahwa semua agama benar. Mungkin ajaran agama yang satu lebih baik dari ajaran yang lain tetapi semua agama benar.

2. Relativisme. Relativisme adalah pandangan yang mengatakan tidak ada kebenaran dalam agama. Tidak ada yang dapat berkata agamanya benar dan agama yang lain salah.

3. Inklusivisme. Inklusivisme adalah pandangan yang mengatakan jika sebuah agama benar maka agama yang lain juga benar.

4. Eksklusivisme. Eksklusivisme adalah pandangan yang mengatakan bahwa hanya satu agama yang benar, dan semua agama yang bertentangan dengannya adalah salah.

Dari keempat pandangan di atas orang percaya seharusnya memegang pandangan Eksklusivisme, karena Tuhan Yesus berkata:

1. Yohanes 14:6

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

2. 1 Tawarikh 16:26

Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah berhala, tetapi TUHANlah yang menjadikan langit.

Dalam kedua ayat itulah terletak paham eksklusivisme Kristen. Gereja mula-mula adalah contoh satu-satunya yang menjadi rujukan paham Eksklusivisme Kristen. Orang Kristen mula-mua tidak pernah menggunakan kekerasan dalam menyebarkan Injil keseluruh kekaisaran Romawi. Mereka juga tidak pernah menganggap semua ajaran lain itu benar. Karena semua ajaran lain salah, maka injil diberitakan kepada setiap suku, bangsa, bahasa dan agama yang ada di dunia.

Oleh sebab itu, Gereja Baptis Alkitabiah menolak segala bentuk kekerasan atas nama agama, karena kebenaran harus dinyatakan di dalam kasih dan menolak segala bentuk pemikiran dari ajaran dan agama apapun yang menentang pengenalan akan Kristus.

Karena, setiap kepercayaan seharusnya boleh berbicara apa saja mengenai ajarannya dan menyatakan ketidak setujuannya terhadap ajaran yang bertentangan dengan pengajaran yang ia pegang. Harusnya sih begitu, tapi…!

Tetapi dibeberapa negara termasuk Indonesia, hal seperti ini merupakan sesuatu yang masih tabu. Demokrasi sih, tapi demokrasi yang masih malu-malu alias demokrasi yang kepalang tanggung. Seolah-olah Indonesia belum mengakui bahwa “Ajaran sebuah agamalah yang bisa membela dirinya sendiri”.

Saat ajaran agama dibela oleh undang-undang itu membuktikan bahwa agama tersebut tidak dapat membela dirinya sendiri. Dengan kata lain agama tersebut masih belum “dewasa” dalam pengajarannya. Dan sangat mungkin penganut ajaran agama tersebut tidak dapat mempertahankan ajaran mereka dari “serangan” luar. Karena itu mereka memerlukan semacam perlindungan, untuk melindungi ajaran agama mereka.

Padahal UUD 1945 No. 29, ayat 2 berbunyi “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Dalam UUD ini, yang dilindungi adalah warganya bukan ajarannya. Negara tidak berurusan dengan “isi” dari ajaran agama, negara hanya melindungi pemeluk agama tersebut.