Resolusi 2022 “Bergaul dengan Tuhan setiap hari”

Pernahkah Anda berpikir, Tuhan dapat bergaul dan menjadi sahabat kita. Jika tidak pernah, itu artinya Anda belum tahu kalau Alkitab mencatat Adam berjalan-jalan bersama Tuhan di taman Eden. Itu artinya Anda juga tidak tahu bahwa Alkitab mencatat Abraham adalah sahabat Allah. Dan Anda tidak tahu bahwa, Tuhan Yesus disebut sahabat orang berdosa.  

Mengapa kita tidak pernah berpikir “kalau kita dapat bergaul dengan Tuhan?” Karena selama ini mungkin kita berpikir mengenai “tuhan” yang salah. Tuhan yang salah adalah “tuhan” yang tidak pernah ada. Tuhan yang tidak pernah ada, tentu tidak bisa bergaul dengan manusia.

Alkitab mencatat bahwa Tuhan menjadikan segala sesuatu adalah untuk Dia. Tuhan menciptakan manusia agar manusia dapat bersekutu dengan-Nya. Bersekutu dengan Tuhan adalah tujuan manusia diciptakan. Berbincang-bincang dengan Tuhan layaknya seorang sahabat karib berbincang, itulah yang Tuhan inginkan dari  manusia.

Manusia adalah objek kasih Tuhan. Manusia ada untuk mengasihi Tuhan. Kasih hanya dapat diwujudkan jika ada pribadi yang dikasihi. Manusia adalah pribadi yang dapat dikasihi karena ia memiliki kehendak, pikiran dan perasaan.

Tuhan menciptakan mahluk yang berkehendak, sama seperti Dia memiliki kehendak. Kehendak Tuhan adalah agar manusia memiliki kehendak, yang dapat memutuskan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya tanpa paksaan dari luar dirinya. Tuhan tidak pernah memaksakan kasih-Nya, Dia hanya menawarkan kasih-Nya kepada semua orang, apakah orang itu akhirnya percaya atau tidak, itu tergantung kehendak orang itu sendiri.

Dalam menyatakan kasih-Nya Tuhan tidak memaksakan kehendak-Nya kepada manusia. Karena kehendak yang dipaksakan adalah pemerkosaan. Dan kita tahu, Allah bukanlah pemerkosa ilahi. Kehendak manusia Tuhan yang rancang, tetapi keputusan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan. 

Kita akan melihat tiga tokoh yang hidupnya bergaul dengan Tuhan.

Tokoh pertama kita adalah Adam. Adam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Tuhan baru kemudian Hawa. Adam menjadi mandataris Tuhan dalam mengurus bumi. Ia yang memberikan nama kepada semua binatang dan mengurus taman Eden.

Selain mengurus taman Eden, Adam juga bersekutu dengan Tuhan. Tuhan bersama-sama dengan Adam jalan bersama di sore hari. Tidak ada hal yang memisahkan mereka. Adam terbuka di mata Tuhan. Tidak ada sesuatu yang curang dalam diri Adam. Kejadian 3:8 “Allah berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk”

Sampai akhirnya Adam jatuh ke dalam dosa, Tuhan pun tidak dapat menjalin hubungan dengan Adam lagi, karena dosa memisahkan mereka. Tuhan itu kudus, karena kekudusan-Nya Dia tidak dapat bersatu dengan manusia berdosa.

Dari Adam kita belajar bahwa manusia pertama diciptakan untuk menjalin hubungan dengan Tuhan, akrab dan bergaul dengan Tuhan. Tuhan menciptakan manusia untuk bersekutu dengan-Nya, berjalan bersama dengan Tuhan.

Tokoh kedua kita adalah Abraham. Abraham memiliki gelar “Bapa orang beriman.” Selain gelar itu, Abraham juga disebut sebagai “sahabat Allah”. Yakobus 2:20 mencatat, “Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.”

Alkitab sudah mencatat bahwa Abraham adalah sahabat Allah itu artinya betapa dekatnya hubungan Abraham dengan Tuhan. Disepanjang Alkitab, Abraham selalu taat, saat Tuhan berfirman kepadanya, bahkan untuk mengorbankan anaknya pun ia rela. Itu sangkin percayanya Abraham kepada Allah.

Tuhan pernah makan dikemah Abraham. Ini juga salah satu bukti kedekatan Abraham dan Tuhan. Saat itu Tuhan dan dua malaikat-Nya menjadi manusia. Mereka mendatangi Abraham dikemahnya. Kedatangan Tuhan kepada Abraham hendak memberitahu bahwa kota Sodom dan Gomora akan dihancurkan. 

Saat kota Sodom dan Gomora akan Tuhan hancurkan, Abraham melakukan tawar menawar dengan Tuhan sebanyak lima kali, untuk membebaskan kota Sodom dan Gomora dari kehancuran, tetapi karena tidak didapati 10 orang benar di kota itu maka Tuhan menjatuhkan hukuman.

Tokoh ketiga kita adalah Tuhan Yesus. Saat Tuhan Yesus ada di bumi, Dia bergaul dengan mereka yang disingkirkan dari masyarakat karena terkenal jahat dan berdosa. Kelompok orang-orang seperti ini seperti pemungut cukai, pelacur dan penjahat. Mereka suka berada dekat dengan Tuhan Yesus karena Tuhan Yesus tidak memusuhi mereka.

Suatu kali Tuhan Yesus diundang oleh Lazarus ke rumahnya. Lazarus adalah seorang pemungut cukai. Seorang pemungut cukai adalah orang jahat di pemandangan masyarakat saat itu karena mereka sering memeras rakyat. Tetapi saat itu juga terjadi pertobatan, Lazarus memberikan setengah dari hartanya dan mengembalikan empat kali lipat dari orang yang pernah ia peras.

Tuhan Yesus juga mau diminyaki oleh perempuan pelacur di tengah-tengah sebuah perjamuan makan. Dia tahu siapa perempuan itu tetapi Dia membiarkan perempuan itu meminyaki kepala-Nya. Sekalipun orang-orang agamawan yang bersama-sama dengan-Nya gusar, Dia sama sekali tidak peduli. Tindakan Tuhan Yesus ini adalah bukti bahwa Dia mengasihi manusia berdosa.

Matius 11:19 mencatat, “Ia sahabat orang berdosa”. Tuhan Yesus sahabat orang-orang yang dipandang sebelah mata di masyarakat. Tuhan Yesus dekat dengan mereka untuk memberitakan kabar baik kepada mereka bukan untuk ikut perilaku mereka. Tuhan Yesus tidak berdosa karena Dialah Mesias juruslamat dunia dan terutama Dia adalah Tuhan yang menjadi manusia.

Apa yang kita pelajari dari ketiga pribadi di atas adalah:

  1. Manusia bisa menjadi sahabat Allah (Abraham)
  2. Karena pada awalnya manusia diciptakan untuk bersekutu dengan Allah (Adam)
  3. Allah datang ke dalam dunia untuk bersahabat dengan manusia berdosa (Tuhan Yesus)

Jika ada manusia yang masih berpikir bahwa dia tidak dapat hidup dekat dengan Allah dan tidak bisa berbincang-bincang dengan Allah itu artinya memang dia tidak mau tahu terhadap fakta-fakta yang telah diuraikan di atas.

Atau dosa-dosanya masih menarik dia, dosa-dosanya masih menuduh dia. Tuduhan ketidaklayakan, karena dirinya penuh dengan dosa, membuatnya tidak menerima fakta bahwa manusia bisa bersahabat dengan Allah.

Atau besar kemungkinan seperti yang sudah dijelaskan di atas. Orang yang tidak percaya Tuhan bisa menjadi sahabat manusia adalah karena dihalangi oleh keyakinannya. Karena dalam keyakinannya Tuhan tidak mungkin bersahabat dengan manusia berdosa, tetapi hal itu, sudah dijawab di atas (Abraham adalah sahabat Allah).

Lalu, bagaimana manusia saat ini dapat bergaul dengan Allah? Manusia dapat bergaul dengan Allah dengan cara membaca firman-Nya. Dengan membaca Alkitab, Tuhan berbicara kepada kita, karena Alkitab adalah perkataan Tuhan.

Jadi, di tahun 2022 ini kita dapat bergaul dengan Tuhan setiap hari. Bergaul dengan Tuhan setiap hari dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja karena Tuhan itu Roh. Tuhan yang adalah Roh tidak dibatasi oleh tempat dan waktu.  Karena itu Dia dapat ditemui kapan saja dan di mana saja.

Inilah saatnya untuk mengadakan resolusi di tahun 2022 ini. Resolusinya adalah “Bergaul dengan Tuhan setiap hari”. Ini dapat dilakukan dan Tuhan pun ingin manusia mendekat kepada-Nya.

Kekudusan Jemaat Lokal

Tuhan menghendaki agar jemaat-Nya kudus (Efesus 5:27), sebab Dia kudus (I Petrus 1:16). Kekudusan  jemaat Kristus adalah faktor utama yang Tuhan dambakan dari tubuh-Nya. Kudus artinya terpisah dari dosa/kecemaran. Bagaimana jemaat Kristus mempraktekkan serta menjaga kekudusannya? Kekudusan jemaat dapat dilakukan dengan menerapkan “Separasi (Pemisahan)” dan “Disiplin jemaat”.

Separasi (Pemisahan) Jemaat.

Jemaat Kristus harus terpisah dari semua hal yang mengkhamiri dan mencemari kekudusannya. Karena jemaat adalah kumpulan orang-orang percaya yang sudah dilahirkan kembali maka jemaat harus menjaga kekudusan secara bersama-sama.

A. Secara Jemaat.

1). Terhadap keyakinan atau ajaran agama lain.

Jemaat lokal harus memisahkan diri dari persekutuan dengan ajaran agama apapun (II Kor. 6:15-16). Agama lain adalah saudara dalam hal berbangsa dan ada juga dalam keluarga tetapi tidak saudara secara rohani. Jemaat Kristus tidak boleh mencemari kekudusannya dengan berdoa bersama-sama umat agama lain. Kita menjunjung tinggi kebebasan beragama tetapi menentang pencemaran iman.

2). Terhadap jemaat lokal lain yang berbeda ajaran.

Tubuh Kristus bersatu dalam kebenaran bukan dalam kesesatan (Yoh.17:22). Jemaat lokal tidak bersekutu dengan jemaat yang berbeda ajaran. Jemaat lokal bisa saja bersekutu atau berbakti bersama-sama dengan gereja lokal lainnya tapi yang ajarannya Alkitabiah. Terhadap gereja yang ajarannya menyimpang jemaat lokal harus memisahkan diri dari mereka. Jangan mengkhamiri kebenaran atas dasar kebersamaan atau kasih. Kasih yang benar harus dalam kebenaran bukan dalam kesesatan. Bersekutu dengan gereja yang ajarannya tidak Alkitabiah sama dengan mengkompromikan iman.

3). Terhadap pemerintah.

Jemaat sebagai warga negara yang baik, taat pemerintah (tertib dan bayar pajak) Roma 13:1. Tetapi dalam hal kepercayaan, negara tidak boleh mencampuri iman/ajaran jemaat. Negara hanya menertibkan, dan melindungi setiap warga dalam keyakinan mereka.

4). Terhadap bantuan.

Jemaat lokal membiayai sendiri kebutuhan pelayanan jemaat. Jemaat lokal tidak menerima bantuan dari pemerintah, agama lain atau dari jemaat lokal lain yang berbeda ajaran (3 Yoh.1:7; Ams 21:27). Ini bukan soal “menolak kebaikan hati orang lain”, tetapi ini mengenai ajaran yang harus diterapkan jemaat. Jemaat lokal hanya menerima bantuan dari jemaat lokal lain yang satu ajaran (Roma 15:26). Ada perbedaan saat seseorang sebagai warga negara dengan saat dia sebagai anggota sebuah jemaat lokal. Sebagai seorang warga negara dia boleh menerima bantuan sosial dari pemerintah tetapi  jemaat tidak  menerima bantuan dari pemerintah untuk mendukung pelayanan jemaat. Gereja juga tidak boleh membuat para  church (Panti Asuhan, Toko Buku, Panti Jompo, dll) menjadi sumber keuangan. Gereja yang seharusnya mendanai para church tersebut karena para church tersebut di bawah gereja. Aneh, saat ini banyak sekali gereja membuat Yayasan menjadi sumber bisnis mereka.

B. Secara Pribadi.

Jemaat terdiri atas pribadi-pribadi orang percaya, karena itu, secara pribadi dia  juga harus menjaga kekudusan, menjauhkan diri dari:

1). Pertemanan yang buruk.

Orang percaya sebagai ciptaan baru harus menjauhkan diri dari pergaulan yang buruk (I Kor. 15:33). Dia harus menyadari bahwa imannya yang benar itu dapat terkikis oleh pergaulan yang buruk. Karena itu adalah bijak jika ia memilih teman-teman yang baik dan benar.

2). Kecemaran pribadi.

Orang percaya masih bisa jatuh dalam dosa karena itulah Tuhan perintahkan agar mengejar kekudusan (Ibr.12:14). Orang yang telah dilahirkan kembali tidak candu terhadap rokok, terhadap minuman yang memabukkan, terhadap pornografi, terhadap games, dsbnya.

Saat seseorang sudah percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan juruslamat pribadinya, hidupnya sudah berubah, pikirannya sudah diperbaharui oleh Roh Kudus. Tetapi jika seseorang belum dilahirkan kembali, semua hal di atas tidak dapat dia terima dan lakukan. Karena sebenarnya dia bukanlah orang yang beriman kepada Tuhan. Mungkin saja orang seperti ini beragama Kristen tetapi kehidupannya jauh dari firman Tuhan. Intinya orang yang masih hidup di dalam daging tidak akan paham dengan aturan-aturan rohani yang Tuhan nyatakan dalam jemaat-Nya.

Disiplin Jemaat (Ibrani 12:10).

Kekudusan jemaat lokal dapat dipertahankan, jika jemaat menerapkan disiplin terhadap anggota yang melanggar aturan. Jemaat lokal memiliki aturan untuk ditaati, sebagaimana sebuah keluarga atau negara memiliki aturan untuk dilakukan bersama, demikian juga halnya dengan jemaat Kristus.

Jemaat lokal menerapkan disiplin bagi anggota yang melanggar aturan jemaat (I Kor.5:5,8) karena Alkitab memerintahkannya dan Tuhan Yesus memberikan contoh mengenai disiplin. Tuhan mendisiplin orang yang Dia akui sebagai anak (Ibr.12:6-8), karena itu disiplin adalah sebuah didikan yang baik. Angota jemaat yang tidak mau menerima disiplin, biasanya adalah orang yang tidak mau dididik dengan benar. Ini mencemari kekudusan jemaat, karena itulah orang seperti ini harus dikeluarkan dari keanggotaan jemaat.

Gereja Lokal harus memperhatikan beberapa  hal dalam menjaga kekudusan jemaat:

  1. Dalam hal keuangan.

Sebuah gereja harus memegang prinsip “keuangan jemaat harus diketahui jemaat”. Keuangan tidak boleh  hanya diketahui oleh gembala dan diaken saja, mereka ini hanya pengelolah, mereka bukan pemilik keuangan jemaat. Keuangan yang tidak transparan tidak dibenarkan dalam jemaat yang menjunjung tinggi Alkitab. Kalau dalam hal uang saja tidak jujur (transparan) bagaimana mereka berbicara mengenai kebenaran?

2. Dalam hal jumlah jemaat.

Agar kekudusan jemaat tetap terjaga, jumlah anggota dalam sebuah gereja harus dibatasi. Prinsip penggembalaan harus  diterapkan “Gembala mengenal jemaat dan jemaat mengenal gembala”. Aneh sekali jika seorang jemaat tetap bangga dengan gedung yang besar dan jumlah jemaat yang ribuan sementara dia sendiri tidak dikenali oleh gembalanya (pendetanya) dan jemaat tidak saling mengenal satu dengan yang lain.

3. Dalam hal kehadiran.

Jemaat yang kudus haruslah jemaat yang berbakti bersama-sama secara rutin sesuai dengan kesepakatan bersama tiap minggu. Adalah gereja yang tidak teratur jika seorang anggota jemaat tidak datang ke gereja sampai dua atau tiga bulan atau bahkan setengah tahun tetapi masih tetap dianggap sebagai bagian dari jemaat. Orang Kristen yang sudah lahir baru tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan jemaat.

4. Dalam hal pertobatan.

Pertobatan adalah karya Roh Kudus dalam diri seseorang, pertobatan tidak dapat ditentukan oleh siapapun. Gereja tidak boleh mengambil peranan Roh Kudus dalam melahirbarukan seseorang dengan cara membuat program pertobatan. Gereja hanya menyerukan pertobatan serta memberitakan tentang  Injil keselamatan yang Tuhan sudah kerjakan di kayu Salib. Tidak boleh seorang pun berpikir bahwa dia dapat melahirbarukan seseorang, itu adalah peranan Roh Kudus. Roh Kudus menginsafkan manusia akan dosa dan manusia merespon teguran Roh Kudus tersebut.

5. Dalam hal penerimaan menjadi anggota jemaat.

Identitas beragama Kristen bukan syarat untuk menjadi anggota jemaat, syarat menjadi anggota jemaat adalah harus sudah dilahirkan kembali (lahir baru). Pengakuan percaya seseorang haruslah dibuktikan oleh pengetahuannya tentang firman yang benar dan tindakan iman yang dapat dilihat oleh jemaat, setelah itu dia boleh diterima menjadi anggota jemaat.

6. Dalam hal ketertiban berbakti.

Jemaat yang kudus adalah jemaat yang berbakti dengan sopan dan teratur (1 Kor. 14:40). Ketertiban merupakan keinginan Roh Kudus, sementara kebaktian yang urakan adalah pekerjaan setan dan keinginan hati manusia. Saat berbakti cara berpakaian orang-orang percaya haruslah sopan dan rapi. Musik yang digunakan haruslah lurus, tidak mengikuti pola musik dunia dan lirik lagu dalam jemaat haruslah benar.

Kepustakaan:

1. Jeffrey Khoo, Biblical  Separation: Doctrine of Church Purification and Preservation (Far Eastern  Bible College  Press, 2004).

2.  Ernest D. Pickering, Tragedy Of Compromise: The Origin and Impact of the New Evangelicalism (Bob Jones  University, 1994).

3.  Jerry Bridges,  The Discipline of Grace (Pionir Jaya, 2006).

“Jemaat Yang Alkitabiah”

Jemaat berasal dari bahasa Yunani Ekklesia artinya orang-orang yang dipanggil keluar dari gelap kepada terang Kristus. Jemaat adalah tubuh Kristus (Ef. 1:23), tiang penopang dan  dasar kebenaran (I Tim. 3:15). Sebagai sebuah jemaat, orang percaya diperintahkan agar mengadakan pertemuan-pertemuan jemaat (Ibr. 10:25). Kata “Jemaat” tidak pernah mengacu pada satu orang percaya, kata “Jemaat” selalu mengacu kepada kumpulan orang-orang percaya di suatu tempat. Gereja adalah gedung tempat jemaat berkumpul. Di Indonesia kata “Gereja dan Jemaat” pengunaannya kadang tumpang tindih.

Jemaat yang Alkitabiah mengajarkan

  1. Keselamatan HANYA di dalam Tuhan Yesus Kristus (Yoh.14:6; Yoh.13:13).

Alkitab mencatat semua manusia sudah berdosa. Manusia berdosa akan menanggung hukuman atas dosanya di Neraka selama-lamanya. Untuk dapat selamat manusia harus percaya pada Tuhan Yesus yang adalah Jalan keselamatan. Yesus adalah kebenaran. KebenaranNya diberikan kepada manusia saat mereka bertobat dan percaya kepadaNya, sehingga manusia berdosa menjadi orang benar. Tuhan Yesus adalah kehidupan itu sendiri. Manusia berdosa yang mati dalam dosanya harus datang kepada Kristus untuk memproleh kehidupan. Kehidupan kekal hanya ada di dalam Yesus Kristus, sebab ada tertulis “Akulah jalan kebenaran dan hidup, tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).

Jemaat  yang Alkitabiah TIDAK mengajarkan keselamatan melalui :

  •  Sunat, Baptisan Air dan Perjamuan Tuhan.

Sunat adalah tanda yang diberikan kepada keturunan Abraham. Sunat tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan. Paulus menegur jemaat Galatia saat mereka melakukan sunat sebagai bagian dari keselamatan. “…Jika kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak berguna bagimu” (Gal. 5:2).

Baptisan memang diperintahkan oleh Tuhan, tapi baptisan bukanlah syarat untuk keselamatan. Yohanes Pembaptis berkata “baptisan adalah tanda pertobatan (Matius. 3:11)”. Baptisan juga melambangkan kematian dan kebangkitan Yesus (Roma 6:4). Baptisan hanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah percaya kepada Injil Kristus. Dengan kata lain, seseorang di baptis karena dia sudah selamat. Baptisan bukan untuk orang yang belum diselamatkan.

Perjamuan Tuhan tujuannya bukan untuk menghapus dosa atau  untuk menguduskan seseorang.  Ajaran yang mengatakan  Perjamuan Tuhan itu menghapus dosa merupakan penambahan yang dilakukan terhadap Injil Keselamatan. Perjamuan Tuhan sebenarnya dilakukan sebagai peringatan terhadap kematian Tuhan Yesus (1 Kor. 11:24-26). Orang-orang yang ikut dalam Perjamuan Tuhan hanyalah orang-orang yang sudah diselamatkan.

  • Melakukan perbuatan baik.

Perbuatan baik adalah bukti seseorang sudah diselamatkan. Perbuatan baik tidak ada andil untuk menyelamatkan siapapun, manusia selamat HANYA oleh kematian Kristus di kayu Salib (Titus 3:5). Keselamatan berbicara apa yang Tuhan SUDAH lakukan, bukan apa yang manusia akan lakukan dengan perbuatannya.

  • Percaya pada pribadi lain selain Kristus.

Mengkultuskan seseorang merupakan ciri dari bidat. Ada banyak orang yang mengangkat dirinya sendiri menjadi seperti nabi dan banyak juga para pengikutnya mengangkatnya menjadi satu-satunya “wakil Tuhan” di bumi. Semua yang ia katakan tidak bisa salah. Menyejajarkan perkataan orang ini dengan Tuhan adalah penyesatan. Tuhan berkata “Jangan ada allah lain di hadapan-Ku”, mengkultuskan seseorang sama dengan “membuat”  allah lain.

2. Mengajarkan  Alkitab adalah satu-satunya Firman Tuhan (1 Kor.13:10;Wah. 22:18-19).

Tuhan sudah menutup (Lockdown) firmanNya dalam Alkitab (66 kitab). Karena itu, semua orang sekarang hanya boleh percaya pada Alkitab sebagai satu-satunya patokan kebenaran. Tuhan tidak berbicara lagi melalui hal-hal lain selain melalui firmanNya. Dahulu Tuhan berbicara melalui berbagai cara: Melalui suara langsung, melalui undian, melalui urim dan tumim, melalui mimpi, melalui nubuatan, melalui para Nabi, melalui para Rasul, melalui Malaikat, melalui karunia-karunia Roh dan melalui diriNya sendiri dalam rupa manusia (Yesus Kristus). Tetapi setelah Alkitab selesai ditulis pada abad pertama tahun 98 Masehi oleh Rasul Yohanes di pulau Patmos, sejak saat itulah Tuhan menutup (lockdown) firmanNya. Semua  orang saat ini HANYA boleh percaya pada Alkitab satu-satuNya firman Tuhan.

Namun demikian, Tuhan dapat memakai SEMUA cara untuk menyadarkan seseorang agar percaya kepada Firman Allah. Seperti, kesalahan saudara-saudara Yusuf,  Tuhan bisa pakai untuk tujuan yang mulia. Demikian juga kesalahan dari kitab-kitab agama lain atau mimpi yang tidak benar, sakit penyakit, masalah kehidupan, dapat Tuhan pakai untuk menyadarkan seseorang untuk mencari Kebenaran dan menemukannya di dalam Alkitab. Tuhan dapat memakai 1001 cara untuk membawa seseorang kepada kebenaran dalam Firman-Nya.

Alkitab sampai hari ini tetap terpelihara sempurna, karena Tuhan sanggup menjaga firmanNya dari Iblis dan dari permainan palsu manusia. Wadah ( Batu, Papirus, Kertas, Elektronik)  firman Tuhan berubah-ubah dari waktu ke waktu namun firman Tuhan tetap selamanya (Mazmur 119:89).

Jemaat Alkitabiah tidak mengajarkan kesalahan dari:

  • Apokrifa.

Kitab-kitab Apokrifa bukanlah firman Tuhan, kitab-kitab ini merupakan kitab sejarah, selain itu banyak juga kitab Apokrifa yang berasal dari para bidat seperti Injil Yudas, Injil Thomas dll. Kitab-kitab ini tidak boleh dianggap sebagai firman Tuhan karena Tuhan tidak berfirman melalui kitab-kitab Apokrifa.

  • Kitab-kitab agama atau ajaran lain.

Semua kitab-kitab agama lain bukanlah firman Tuhan. Tuhan Yesus tidak mengilhamkan Weda, Tripitaka, Al-quran, Awesta, Deuterokanonika, dll, Tuhan yang menciptakan alam semesta HANYA mengilhamkan ke-66 kitab dalam Alkitab.

  • Sains (Ilmu Pengetahuan).

Sains sekalipun bermanfaat tetapi Sains bukanlah kebenaran. Karena Sains  sifatnya tentatif (belum pasti, masih dapat  berubah), sesuatu yang belum pasti dan dapat berubah ini tidak dapat dijadikan kebenaran. Karena kebenaran itu sesuatu yang sudah pasti dan final, tidak berubah, maka sains tidak dapat dijadikan patokan kebenaran.

3. Mengajarkan Jemaat Lokal harus Independen (Wahyu 2-3).

Jemaat itu lokal dan Independen. Lokal dalam pengertian orang percaya hanya menjadi anggota tubuh Kristus dalam jemaat lokal setempat. Independen dalam pengertian jemaat mengurus sendiri semua hal dalam jemaat tersebut, tidak boleh ada intervensi dari jemaat lokal yang lain atau pun negara. Sebagai warga negara tiap-tiap orang percaya harus tunduk kepada pemerintah, tetapi dalam hal ajaran, jemaat harus lebih taat kepada Tuhan. Karena itu jemaat tidak boleh diatur oleh pemerintah. Pemerintah urusannya menertibkan warganya, pemerintah yang baik, tidak akan mencampuri iman warganya.

Jemaat/Gereja Kristus satu tubuh Kristus secara rohani tetapi berbeda-beda dalam  berjemaat, berbeda dalam penggembalaan, berbeda dalam hal kebijakan-kebijakannya. Karena itulah disebut jemaat lokal yang kelihatan bukan jemaat universal atau am yang kelihatan.

Karena sebuah jemaat lokal dipimpin oleh seorang Gembala maka berlaku prinsip “Gembala mengenal jemaat dan jemaat mengenal gembala”. Gembala yang baik, tahu dan mengenal dombanya tetapi gembala upahan (yang jahat) tidak mengenal domba-dombanya. Semua anggota jemaat harus saling mengenal satu sama lain. Apa gunanya sebuah gereja jika anggota jemaat yang satu dengan yang lain tidak saling mengenal? Karena itulah jumlah anggota jemaat dalam sebuah gereja lokal juga harus dibatasi agar dapat saling mengenal satu dengan yang lain dan supaya pelayanan penggembalaan efektif.

Tuhan juga menghendaki agar jemaat-Nya kudus dan tak bercacat (Kol. 1:22). Kekudusan jemaat hanya dapat dilakukan jika jemaat lokal menerapkan disiplin jemaat. Pendisiplinan jemaat ini dilakukan sebagai bukti kasih terhadap anggota jemaat yang melanggar aturan jemaat. Kekristenan bukan “legalisme” tetapi juga bukan agama yang “serampangan” (tidak memiliki keteraturan). Selain disiplin, jemaat lokal juga mengajarkan separasi (pemisahan) dari jemaat yang menyimpang dan dari semua ajaran agama lain yang tidak satu ajaran (2 Kor. 6:17). Tujuannya menjaga kebenaran agar tetap murni.

Alkitab mencatat bahwa jemaat mula-mula disatukan oleh ajaran, mereka tidak disatukan oleh nama gereja atau denominasi, nama-nama gereja tiap jemaat berbeda-beda, ada Jemaat Yerusalem, Jemaat Korintus, Jemaat Anthiokhia, Jemaat Efesus, Jemaat Pergamus, Jemaat Tiatira dll. Namun, tiap-tiap jemaat lokal “berdiri sama tinggi duduk sama rendah”. Artinya tidak  ada jemaat lokal yang berlaku sebagai pemimpin atas jemaat lokal yang lain.

Jemaat di Korintus berbeda gembalanya dengan gembala jemaat di Galatia. Tidak ada sistem bawahan atau atasan antara gembala yang satu dengan gembala jemaat lokal lainnya. Karena itulah kita tidak menemukan sistem denominasi, sinode atau hierarki gereja dalam jemaat lokal Perjanjian Baru. Sistem jemaat dalam Alkitab adalah system “jemaat lokal”. Hal ini sesuai dengan nama-nama jemaat ditiap-tiap kota dan  daerah  masing-masing.

Kepustakaan:

  1. Norman Geisler, Sistematic Theology in one Volume (Bethany House Publisher, 2011).
  2. Suhento Liauw, Doktrin Gereja Alkitabiah (Gereja Baptis Independen Alkitabiah Graphe, 1996).
  3. David Cloud, The Discipling Church: The Church That will stand until Christ comes (Way of Life literature, 2017).
  4. Douglas Groothuis, Pudarnya Kebenaran (Momentum, 2003).

Benarkah, saat ini, Tuhan hanya berbicara melalui Alkitab?

Mengapa semua orang saat ini HANYA boleh percaya pada Alkitab (66 kitab) saja? Mengapa kita tidak boleh percaya pada kitab agama lain atau pada kesaksian orang yang naik ke sorga, orang yang ngaku-ngaku pergi  ke neraka atau kepada orang yang katanya bertemu malaikat? Karena saat ini, Tuhan berbicara kepada manusia HANYA melalui Alkitab.

Sebelum Alkitab lengkap/sempurna, Tuhan berbicara kepada manusia dengan pelbagai cara (Ibrani 1:1). Kita akan melihat cara-cara yang Tuhan pakai dalam berkomunikasi kepada manusia sebelum Alkitab selesai  ditulis.

1. Tuhan berbicara kepada manusia secara langsung

Dalam Kejadian 2-3 Tuhan berbicara kepada Adam dan Hawa secara langsung. Dalam rupa manusia Tuhan berjalan bersama Adam sebelum mereka jatuh dalam dosa. Tetapi saat ini Tuhan tidak lagi duduk dan berjalan bersama-sama dengan kita, seperti yang Ia  lakukan kepada Adam.

2. Tuhan berbicara kepada manusia melalui (via) suara

Setelah kejatuhan Adam, Tuhan berbicara kepada manusia melalui suara. Tuhan berbicara kepada Kain (Kej. 4:6), dan Nuh (Kej. 6:13) melalui suara. Saat ini Tuhan tidak berbicara melalui suara kepada semua orang. Tuhan berbicara melaui firman-Nya (Alkitab).

3. Tuhan berbicara kepada manusia melalui undian

Yunus ditetapkan sebagai penyebab laut bergelora melalui sistem undi (Yunus 1:7). Matias juga dipilih menggantikan posisi Yudas Iskariot melalui sistem undi (Kis. 1:26). Tetapi saat ini,  kita tidak mengundi seseorang untuk mengetahui apakah dia berbuat dosa atau tidak.

4. Tuhan berbicara kepada manusia dalam rupa manusia (Theophany)

Tuhan bertemu Abraham dalam rupa manusia (Kej. 18:1-3). Yakub juga bertemu Tuhan dalam rupa manusia (Kej. 32:28-30). Apakah Tuhan saat ini  bertemu Anda dalam rupa manusia?  Tentu saja  tidak! Karena saat ini, Tuhan tidak bertemu dengan kita dalam rupa seorang manusia.

5. Tuhan berbicara kepada manusia melalui urim dan tumim.

Urim dan Tumim (Kel. 28:30) merupakan dua buah batu yang terletak di kantong penutup dada imam besar. Tuhan menyatakan kehendakNya melalui kedua batu ini (I Sam. 14:41). Saat ini kedua batu ini sudah tidak ada.  Apakah itu artinya Tuhan sudah tidak berbicara lagi? Tuhan masih tetap berbicara  melalui Alkitab.

6. Tuhan berbicara kepada manusia melalui mimpi.

Tuhan menyatakan kehendakNya melalui mimpi kepada Yusuf, Firaun, Nebukadnezar, Maria dll. Semua yang mimpi dalam Alkitab itu saksinya adalah Tuhan. Saat ini semua manusia bermimpi disebabkan oleh banyak kesibukan (Pengkotbah 5:2).

7. Tuhan berbicara kepada manusia lewat nubuatan.

Melalui para Nabi-Nya Tuhan menubuatkan banyak hal dalam Alkitab. Banyak dari nubuat-nubuat ini sudah digenapi dan lainnya masih menunggu penggenapannya. Wahyu 22:18 memberi peringatan agar  tidak menambah dan mengurangi nubuat-nubuat dalam Alkitab. Karena nubuat sudah tidak boleh ditambahi, maka sekarang ini, tidak ada lagi nabi.

8. Tuhan berbicara kepada manusia melalui perantaraan para Nabi.

Nabi adalah penyampai pesan Tuhan kepada umat. Melalui  nabi-nabi, Tuhan menyatakan kehendakNya dan menyingkapkan hal-hal yang akan datang (Nubuat). Karena semua hal-hal yang akan datang sudah Tuhan singkapkan maka sekarang jabatan nabi sudah tidak ada lagi.

9. Tuhan berbicara kepada manusia dengan mengutus malaikat.

Tuhan mengutus malaikat untuk menyampaikan pesan dan untuk melindungi umatNya. Semua yang bertemu Malaikat dalam Alkitab, kita percaya itu benar karena dicatat dalam Alkitab.

10. Tuhan berbicara kepada manusia melalui para rasul.

Para rasul menjadi ukuran kebenaran saat Alkitab Perjanjian Baru masih dalam proses penulisan. Melalui mereka Tuhan menyatakan firmanNya.

11. Tuhan berbicara kepada manusia melalui karunia-karunia roh.

Karunia-karunia roh adalah suatu kemampuan adikodrati yang Tuhan berikan kepada seseorang tanpa melalui proses belajar (I Korintus 12:1-11). Tuhan memberikan karunia-karunia roh untuk membangun jemaat saat Alkitab masih dalam proses penulisan, tapi saat Alkitab selesai ditulis karunia-karunia roh ini akan berhenti (I Korintus 13:10). Karunia-karunia roh  ini ada masa pemakaiannya. Tidak di semua zaman memiliki karunia-karunia roh, zaman Adam, zaman Abraham, zaman Daud dan saat ini, karunia-karunia roh sudah tidak ada.

12. Tuhan berbicara kepada manusia secara langsung (Yesus Kristus).

Tuhan Yesus berbicara secara langsung kepada manusia dalam rupa manusia. Setiap orang pada zaman itu dapat melihat dan menyentuhnya. Tetapi sekarang Tuhan Yesus sudah di Sorga (Kis. 1:9-11).

13. Tuhan berbicara kepada manusia HANYA melalui Alkitab saja.

Setelah kitab Wahyu ditulis oleh Rasul Yohanes di pulau Patmos pada tahun 98 Masehi, sejak saat itulah Tuhan HANYA berbicara kepada manusia melalui Alkitab. Kalau dulu Tuhan berbicara kepada manusia melalui banyak cara, sekarang Tuhan HANYA bicara melalui Alkitab (Wahyu 22:18-19).

Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang mampu membatasi cara Tuhan berbicara, Tuhanlah yang membatasi manusia agar percaya HANYA pada firman-Nya saja.

Tuhan membatasi manusia agar ia terhindar dari permainan nabi-nabi palsu, rasul-rasul palsu, pengajar-pengajar palsu, rohaniawan-rohaniawan palsu dan kitab-kitab palsu, terlebih terhadap tipu muslihat Iblis yang memakai banyak cara untuk menipu banyak orang.

Ada banyak “ajaran tertentu” yang membuat tradisi gerejanya menjadi patokan kebenaran. Yang lain membuat konsili gerejanya menjadi patokan kebenaran. Sebagian mengutip “bapa-bapa gereja mereka” menjadi ukuran kebenaran. Dan ada yang membuat credo/pengakuan iman gereja setara dengan Alkitab.

Dengan kata lain, mereka menghakimi Alkitab menurut perkataan rohaniawan gereja mereka. Alkitab hanya sebagai pelengkap dari setiap buku atau kredo yang mereka buat.

Sesungguhnya TIDAK ADA tradisi, teolog, konsili, rohaniawan atau “bapa-bapa gereja tertentu” yang menjadi patokan kebenaran. Patokan KEBENARAN adalah Alkitab, satu-satunya Firman Tuhan.

  • Roh Kudus memimpin orang percaya pada seluruh kebenaran.

Tuhan Yesus mengutus Roh Kudus untuk menuntun semua orang pada seluruh kebenaran. Ia menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh. 16:8). Dia adalah penolong yang lain yang Tuhan Yesus utus dari Sorga. Roh Kudus menerangi pikiran dan hati setiap orang percaya saat mereka membaca dan merenungkan firman Tuhan. Roh Kudus juga mengingatkan orang percaya akan firman Tuhan saat mereka menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan.

  • Tuhan dapat memakai 1001 cara agar manusia datang kepada Firman-Nya.

Sekalipun saat ini, Tuhan HANYA berbicara kepada manusia melalui Alkitab, tetapi Tuhan juga dapat memakai SEMUA cara untuk menyadarkan seseorang agar percaya kepada Firman-Nya. Seperti kejahatan saudara-saudara Yusuf,  Tuhan bisa pakai untuk tujuan yang mulia. Demikian juga kesalahan dari kitab-kitab agama lain dapat Tuhan pakai untuk membuat seseorang mencari kebenaran. Sakit penyakit, kematian, masalah kehidupan, bencana alam, semua ini dapat Tuhan pakai untuk menggugah hati seseorang sehingga dia mencari kebenaran dan menemukannya dalam  Alkitab (firman Tuhan).

Jadi, untuk zaman ini Tuhan HANYA berbicara melalui Alkitab dan tuntunan Roh Kudus, tetapi Tuhan juga dapat “memakai” sebuah kejadian atau kejahatan untuk mendorong manusia datang kepada firman-Nya dan akhirnya ia diselamatkan.

Kepustakaan:

  1. Henry C. Thiessen, direvisi oleh Vernon D. Doerksen, Sistematik Teologi (Gandum Mas, 2010).
  2. Norman Geisler, Sistematic Theology in one Volume (Bethany House Publisher, 2011).
  3. Ronald H. Nash, Iman dan Akal Budi (Momentum, 2001).
  4. Suhento Liauw, Doktrin Alkitab Alkitabiah (Gereja Baptis Independen Alkitabiah Graphe, 2001).

http://www.alkitabiah.org

Apakah orang yang tidak mendengar Injil bisa selamat?

Selamat karena Tuhan tolong melalui Injil

Manusia tidak bisa mempercayai sesuatu yang dia tidak tahu atau sesuatu yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Sekalipun manusia tidak mengetahui “sepenuhnya” tentang sesuatu yang dia SUDAH percayai, tetapi dia harus tahu sedikit atau banyaknya informasi tentang hal yang ia percayai tersebut.

Demikian halnya dengan percaya kepada Injil. Seseorang harus tahu atau mendengar lebih dahulu tentang Injil (kabar baik) agar dia dapat percaya kepada Tuhan Yesus. Tanpa mengetahui lebih dahulu tentang Injil seseorang tidak akan percaya kepada Kristus. Itulah sebabnya Tuhan berkata dalam Roma 10:17 “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus”.

  • Nenek moyang kita dan orang yang tinggal ditengah hutan.

Bagaimana dengan nenek moyang kita dan suku yang tinggal di tengah hutan yang tidak pernah mendengar Injil, apakah mereka bisa selamat? Alkitab mencatat orang selamat jika ia percaya kepada Injil. Kalau seseorang tidak percaya kepada Injil tidak mungkin dia selamat. Jika seseorang tidak pernah mendengar Injil tidak mungkin dia bisa percaya kepada Tuhan Yesus. Karena itu mereka yang tidak percaya Injil pastilah akan binasa selama-lamanya di neraka.

Namun, yang membuat mereka masuk neraka bukanlah karena mereka tidak mendengar Injil. Yang membuat mereka binasa adalah karena mereka orang berdosa. Dosa merekalah yang menyebabkan mereka masuk neraka. Karena Tuhan berkata “upah dosa adalah maut”.

Alkitab mencatat bahwa Injil sudah ada sejak kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Injil dimulai sejak Kejadian 3:15 “…keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Ini disebut Injil pertama.

Adam dan Hawa sudah pasti memberitahukan Injil kepada semua keturuan mereka. Tuhan akan datang menjadi manusia untuk menyelamatkan mereka dari dosa-dosa mereka.

Masalahnya Injil ini lama-kelamaan memudar, terkikis oleh ketidakpercayaan keturunan Adam. Sehingga Injil ini mengalami pemudaran sehingga tidak diteruskan dengan benar kepada keturunan-keturunan selajutnya.

Karena memudarnya berita Injil dalam kejadian 3:15 inilah yang membuat Tuhan langsung memberitakan Injil lagi kepada Abraham “Olehmu segala bangsa akan diberkati.” Galatia 3:8.

Jika Abraham sendiri dipanggil Tuhan dari keluarga penyembah berhala. Itu artinya Injil  sudah mengalami “pemudaran” dari semua keturunan Adam. Inilah sebabnya mengapa Injil tidak lagi di dengar oleh nenek moyang (suku Batak Toba) dan mereka yang ada di tengah hutan.

Namun, mungkin ada orang yang berpikir “nenek moyang kita dan suku yang ada di tengah hutan” tidak tahu apa itu dosa, tidak adil bagi mereka  jika dihukum atas sesuatu yang tidak mereka ketahui.

Jika seseorang tidak tahu tindakannya adalah dosa, tidak berarti dia tidak berdosa dihadapan Tuhan, karena yang menentukan sebuah tindakan itu dosa bukanlah dirinya sendiri, melainkan Tuhan. Alkitab berkata Dosa adalah pelanggaran akan hukum Allah 1 Yoh 3:4” Manusia  tidak dapat berdalih berdasarkan ketidaktahuannya. Dia tidak dapat berkata “Saya tidak tahu tindakan saya itu dosa”.

Karena itulah semua suku pedalaman dan nenek moyang kita yang tidak pernah mendengar tentang Injil Kristus, mereka dihukum bukan karena mereka tidak pernah mendengar tentang Injil tetapi karena mereka adalah manusia berdosa.

Tapi, jika mereka mendengar Injil, bukankah ada kemungkinan mereka percaya?

Semua manusia di dunia sudah mengetahui adanya Tuhan yang Maha Kuasa, karena Tuhan menyatakan diri-Nya kepada semua orang melalui alam  semesta.

Mazmur 19:1-5 mencatat “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi.”

Jika suku  terpencil yang berada ditengah-tengah hutan belantara dan nenek moyang kita menerima wahyu umum (alam semesta) dan hatinya mencari Tuhan sang pencipta. Tuhan akan menuntunnya kepada Injil. Alkitab mencatat dalam Roma 1:19-21, Tuhan telah menyatakan diri-Nya kepada semua orang melalui alam semesta, dan sebenarnya semua manusia mengenal Tuhan secara umum.

Tetapi manusia membiarkan pikiran liarnya yang menguasainya dan pada akhirnya membuat hatinya yang bodoh menjadi gelap. Pikirannya yang bodoh dan gelap ini menuntunnya membuat allah bagi dirinya sendiri, dia berpikir itu adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi tetapi itu adalah ilah ciptaannya sendiri.

Hal ini terjadi di semua suku bangsa dan budaya manusia. Semua suku menciptakan tuhannya masing-masing.  Hanya bangsa Israel yang menyembah Tuhan yang benar, seperti yang Tuhan Yesus katakan dalam Yohanes 4:22 (…sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi). Mengapa dari bangsa Yahudi? Karena Tuhan Yesus adalah bangsa Yahudi dari suku Yehuda.  

Alkitab mencatat tentang dua orang yang tinggal ditengah-tengah bangsa yang tidak pernah mendengar Injil tetapi akhirnya Tuhan tuntun kepada Injil karena hati mereka mencari Tuhan yang benar.

Contoh yang pertama adalah sida-sida dari Etiopia (Kisah par rasul 8:27-40). Bangsa  Etiopia tidak mencari Tuhan yang menciptakan alam semesta, sebaliknya mereka menciptakan “tuhan” mereka masing-masing. Tetapi ada seorang sida-sida yang hatinya mencari Tuhan sang pencipta, dan akhirnya Tuhan menuntunnya pada Injil dengan mengutus Filipus memberitakan Injil kepadanya.

Contoh lainnya adalah Lidia (Kisah para rasul 16:13-15). Lidia adalah seorang yang tinggal di kota Tiatira. Kota Tiatira tidak menyembah Tuhan yang menciptakan alam semesta, mereka menciptakan “tuhan” versi mereka sendiri. Tetapi Lidia, tidak menyembah “tuhan” yang disembah oleh bangsanya. Karena hatinya mencari Tuhan sang pencipta alam semesta Tuhan menuntunnya kepada Injil. Tuhan mengutus rasul Paulus memberitakan Injil kepadanya.

Lidia dan sida-sida dari Etiopia merupakan dua contoh manusia yang tinggal di tengah-tengah suku bangsa yang tidak pernah mendengar Injil. Mereka ada di tengah-tengah bangsa penyembah berhala. Tetapi hati mereka mencari Tuhan yang benar, sehingga Tuhan menuntun mereka kepada Injil.

  • Bayi yang meninggal dalam kandungan.

Semua bayi  yang meninggal  pasti masuk sorga, sekalipun ia dilahirkan  dalam  keluarga yang beragama Buddha, Islam, Katolik, Hindu, Kristen, penganut kepercayaan bahkan atheis (tidak percaya Tuhan), iman orang tuanya tidak ada hubungannya dengan mereka. Bayi berdosa sejak dalam kandungan ibu mereka tidak ada hubungannya dengan dosa-dosa orang tuanya. Dosa ini hubungannya dengan Adam manusia pertama.

Semua bayi berdosa karena Adam telah jatuh ke dalam dosa. Karena dosa Adam yang pertama itulah seluruh manusia dikandung dan lahir dengan dosa. Bukan dosa perbuatan tetapi dosa karena pelanggaran Adam. Bukan pula mewarisi dosa Adam, karena dosa tidak dapat diwariskan. Dosa bukan seperti harta benda yang dapat diturunkan kepada keturunan berikutnya.

Dari hal ini kita mengetahui bahwa bayi berdosa bukan karena orang tuanya berdosa tetapi karena Adam telah berdosa. Semua keberdosaan manusia langsung dihubungkan kepada Adam karena Adam adalah pempimpin dari semua yang hidup.

Tapi apakah benar bayi berdosa, kita tahu dari mana?  Bukti yang tidak terbantahkan bahwa bayi memiliki dosa adalah bayi bisa mati. Alkitab berkata kematian masuk melalui dosa (Roma 5:12). Manusia tidak akan mati jika ia tidak berdosa, bukti bahwa bayi bisa mati menjelaska bahwa ia berdosa. 

Ada yang mengajarkan bahwa bayi orang Kristen mati masuk sorga dan bayi orang yang bukan Kristen masuk Neraka. Ini pandangan yang menyesatkan.

Karena itulah kita percaya bahwa semua bayi yang meninggal dalam rahim ibu mereka atau orang yang meninggal saat belum akil balik pasti selamat karena Tuhan Yesus telah menebus mereka. Tapi, bukankah syarat untuk selamat adalah percaya kepada Injil? Kita tahu bahwa bayi belum bisa tahu apa itu Injil.  Bagaimana mungkin bayi bisa percaya, jika dia belum bisa tahu. Dalam kasus bayi, percaya bukanlah syarat untuk dapat selamat karena selain tidak tahu Injil, bayi juga tidak akan memahami apa itu injil.

Karena itu bayi dan semua anak yang meninggal sebelum akil balik, Alkitab katakan selamat berdasarkan Roma 5:18 “Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup”.

Identitas Mesias Juruslamat

Nabi Yesaya menubuatkan tentang Mesias yang akan datang. Dalam nubuatnya, Yesaya bertanya dengan ragu, siapa yang akan percaya kepada berita yang ia tulis ini? Pertanyaan Yesaya ini memberitahukan hampir “tidak ada” orang yang percaya kepada mesias yang ia beritakan.

Kita akan melihat identitas mesias dalam Yesaya 53:1-12 dan bagaimana manusia menciptakan identitas mesias yang berbeda yang sesuai dengan versi mereka sendiri.

  • Mesias tidak tampan (Ia tidak tampan, ayat 2)

Alkitab mencatat bahwa Mesias (Yesus Kristus) tidak memiliki wajah yang tampan dan tidak memiliki semarak. Wajah mesias yang tidak tampan ini tidak dapat diterima oleh orang-orang di zaman ini. Di zaman ini mereka berpikir Yesus haruslah seorang yang tampan karena Dia mesias. Karena itulah mereka menciptakan mesias (Yesus Kristus) yang berbeda. Karena manusia menyukai wajah yang tampan maka mereka melukis dan membuat 1001 gambar Yesus. Wajah Yesus (mesias) yang mereka buat ini berbeda satu dengan yang lain (baik dalam bentuk wajah, rambut, warna kulit) tergantung Yesus versi negara masing-masing.

Dari fakta ini kita mengetahui bahwa manusia tidak mau menerima kebenaran seperti yang tertulis dalam Yesaya 53:2, mereka lebih suka melukis wajah Yesus yang tampan dan imut-imut.

Wajah Yesus yang asli tidak ada yang tahu kecuali orang-orang yang sezaman dengan-Nya. Tetapi yang pasti Yesus tidak tampan dan tidak memiliki semarak sebagaimana yang tertulis dalam Yesaya 53:2 “Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada”.

Bahaya dari orang-orang yang menciptakan wajah “yesus” palsu ini adalah saat mereka berdoa. Mereka berdoa kepada gambar/lukisan wajah “yesus” yang sudah ada dalam pikiran mereka. Menciptakan ilah lain (wajah yesus yang palsu) dalam pikiran dan berdoa kepadanya merupakan bentuk penyembahan berhala.

  • Mesias dihindari orang (Ia dihindari orang, ayat 3)

Kristus dihindari orang, karena Dia menyatakan apa yang salah. Dalam kehidupan-Nya, Kristus tidak pernah mendiamkan orang yang berbuat dosa, itulah sebabnya banyak orang yang menghindari-Nya, karena Yesus menegur dosa-dosa mereka. Jika seseorang benar, tidak perlu dia menghindari Kristus, karena Tuhan tidak menegur perbuatan baik. Tuhan hanya menegur dosa atau kesalahan orang.

Tuhan Yesus mengasihi semua orang tetapi Dia tidak pernah mentolerir dosa. Itulah sebabnya Tuhan Yesus sering dengan frontal (secara terbuka) menegur dosa-dosa orang-orang agamawan di depan umum tetapi ia merangkul pelacur dan pemungut cukai yang mau bertobat.

Salah satu fungsi utama Alkitab adalah menyatakan kesalahan. Sang Firman datang ke dalam dunia untuk menyatakan dosa (kesalahan) dan menerangi dunia dengan kebenaran. Saat kebenaran itu terpancar, kesalahan akan tersingkap.

Dari hal ini kita ketahui, siapapun yang tidak menyadari dirinya adalah orang berdosa yang seharusnya akan dihukum di Neraka, dia tidak akan pernah datang kepada Tuhan Yesus yang adalah kebenaran itu sendiri. Tuhan Yesus datang ke dunia untuk menyatakan bahwa semua manusia sudah berdosa (salah) dihadapan Allah.

  • Mesias biasa menderita (Seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita ksakitan, ayat 3)

Yesus adalah anak seorang tukang kayu. Pada zaman kekaisaran romawi ada empat golongan masyarakat. Golongan bangsawan, prajurit, orang bebas dan budak. Tuhan Yesus termasuk golongan orang bebas. Orang bebas umumnya bekerja di tempat para bangsawan, ada yang sebagai tukang besi, tukang kayu, tukang batu dll dan Yesus adalah anak Yusuf tukang kayu.

Kondisi Tuhan Yesus ini sudah dinubuatkan dalam Yesaya 53:3 “seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan”. Sebagai anak tukang kayu, Tuhan Yesus sama sekali tidak diperhitungkan, hal ini terlihat saat orang-orang menolak Dia waktu mereka tahu Yesus hanyalah anak Yusuf tukang kayu.

Yesus berkata kepada orang yang hendak mengikuti-Nya “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Matius 8:20).

Herannya banyak orang menjadi Kristen hanya karena ingin kaya, ingin punya ini dan itu, sehat selalu, panjang umur dan tidak kekurangan apapun  yang dia inginkan. Ini sebenarnya mau menyembah Tuhan atau memperalat Tuhan untuk mencapai semua keinginan hatinya?

  • Mesias dianiaya (Ia sangat dihina, ayat 3)

Mesias yang dinantikan dan yang diinginkan oleh bangsa Yahudi adalah Mesias yang gagah, yang dapat membebaskan bangsa mereka dari penjajahan bangsa Romawi. Tetapi yang mereka lihat adalah Yesus yang tidak dapat berbuat apa-apa saat Dia ditangkap. Mereka juga menginginkan Mesias yang mendukung ajaran mereka, tetapi sebaliknya yang terjadi, Yesus membongkar kemunafikan para ahli taurat mereka. Yesus dekat dengan orang-orang miskin, orang sakit, penjahat, pelacur dan pemungut cukai tetapi menentang para pengajar Israel.

Tuhan Yesus dianiaya dengan kejam, Dia dicambuk, diolok-olok, diludahi dan ditampar, Dia seperti tidak berdaya dihadapan manusia. Mata manusia melihat dan mengejek “tidak mungkin Mesias seperti Yesus”, bahkan sampai sekarang, ejekan itu tetap terdengar.

Berapa banyak judul buku atau jurnal-jurnal ilmiah yang diterbitkan yang isinya tentang “Ejekan” kepada Tuhan Yesus. Dan tidak sedikit diantara buku-buku itu menjadi “Bestseller” karena dunia menyukai informasi yang menjelek-jelekkan Tuhan Yesus.

Kehinaan yang Tuhan Yesus tanggung, sampai saat ini masih dijadikan lelucon oleh rohaniawan agama tertentu. Dan tanpa berpikir panjang mereka sering mencibir, Tuhan tidak mungkin jadi manusia. Tetapi Alkitab berkata Tuhan menjadi manusia.

Mereka tidak mau tahu bahwa Yesus melakukan semua itu karena Dia adalah juruslamat atas semua dosa mereka. Tetapi hal itu juga menjadi penggenapan dalam Yesaya 53:3 berkata “ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan”.

  • Mesias mati (Dia tertikam karena pemeberontakan kita, ayat 4)

Dalam pandangan manusia kematian bukanlah tanda dari kemenangan, kematian  adalah tanda kekalahan.

Saat Tuhan Yesus tergantung di kayu salib, ada banyak orang Yahudi yang mencibirnya, dan ejekan seperti ini masih terdengar dari mulut manusia zaman ini. Apalagi saat Tuhan Yesus mati terkutuk di kayu salib, banyak orang mengejek “Tuhan kok mati”. Kita tahu Tuhan mati dalam keadaan-Nya sebagai manusia. Saat manusia mati, roh dan tubuhnya berpisah demikian juga halnya dengan Tuhan Yesus, tubuhnya saja yang mengalami kematian tapi Roh-Nya tidak bisa mati.

Jika Yesus tidak mati maka Dia bukan Tuhan, karena hanya Yesuslah manusia yang memiliki kemampuan memberikan nyawa dan mengambil nyawa-Nya kembali. Tidak ada manusia yang mampu mengambil nyawanya kembali selain Tuhan Yesus.

Semua yang Tuhan Yesus perbuat ini adalah untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa, untuk mendamaikan kita dengan Bapa, untuk menghindarkan kita dari hukuman neraka. Dia datang untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi manusia berdosa.

Fondasi Iman Kristen

Alkitab adalah satu-satunya dasar iman orang percaya.

Semua orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus harus tahu bahwa satu-satunya dasar iman Kristen adalah Alkitab. Iman seorang Kristen tidak didasarkan pada hal lain, selain Alkitab. Kita akan melihat beberapa contoh hal -hal yang bukan fondasi dari iman Kristen.

  1. Iman Kristen tidak berdiri di atas Konsili/rapat.

Konsili adalah musyawarah/rapat para pemuka gereja tertentu. Konsili hanya sebagai sebuah sidang yang mengumumkan apa yang dipercayai oleh sebuah kelompok gereja tertentu.

Ada tujuh konsili/rapat  yang diadakan sebelum tahun 1000 Masehi : 1. Konsili Nikea (I) 325 M,  2. Konsili Konstantinopel (I) 381 , 3. Konsili Efesus 431 M, 4. Konsili kalsedon 451 M, 5. Konsili Konstantinopel (II) 553 M, 6. Konsili Konstantinopel (III) 680-681 M, 7. Konsili Nikea (II). Selain ketujuh konsili ini, ada banyak konsili-konsili lainnya yang diadakan oleh berbagai aliran gereja.

Tanpa Konsili, kebenaran firman Tuhan tetap sempurna. Justru dengan adanya konsili, kebenaran firman Tuhan banyak dipertanyakan, karena banyak umat lebih memilih percaya pada konsili dari pada apa kata Alkitab. Lalu, apakah tidak boleh rapat (konsili)? Tentu saja boleh untuk kalangan sendiri. Yang tidak boleh adalah menjadikan rapat (konsili) menjadi ukuran bagi gereja lokal yang lain.

2. Iman Kristen tidak berdiri di atas Pengakuan Iman (Kredo) gereja tertentu.

Pengakuan iman adalah Kredo. Para rasul tidak pernah membuat “pengakuan iman rasuli”. Pengakuan iman itu dibuat pada abad ke 4 masehi, empat ratus tahun setelah para rasul meninggal. Penulis “pengakuan iman rasuli” tidak diketahui tetapi dia sengaja mencatut nama para rasul. Mereka yang membuat judul tersebut ingin orang lain berpikir bahwa para rasul yang membuat “pengakuan iman rasuli”, tetapi faktanya para rasul tidak pernah membuat pengakuan iman tersebut.

Semua pengakuan iman yang dibuat oleh tiap-tiap gereja hanyalah sebagai kesepakatan bersama, agar satu suara dalam pengajaran. Pengakuan iman yang benar juga sebagai pembimbing dalam menghadapi pertentangan dengan ajaran lain. Pengakuan iman  tidak boleh membelenggu kebenaran dalam Alkitab. Karena itu “Pengakuan iman” gereja mana pun bukanlah patokan kebenaran bagi semua orang Kristen lainnya.

3. Iman Kristen tidak berdiri di atas perkataan rohaniawan gereja tertentu.

Biasanya beberapa gereja menyebutnya sebagai “bapak-bapak gereja”, tapi penyebutan yang benar adalah rohaniawan gereja. Perkataan “rohaniawan gereja” banyak jadikan sebagai rujukan untuk membenarkan sebuah ajaran. Beberapa gereja tidak dapat berdiri tanpa perkataan mereka. Bagi mereka Alkitab tidak cukup sebagai dasar iman. Mereka perlu dasar iman yang lain seperti “perkataan rohaniawan gereja”.

Perkataan rohaniawan gereja harus dipandang sebagai masukan dan penambah pengetahuan tentang “sejarah pemikiran” dalam dunia Kristen, tidak boleh lebih dari itu. Karena perkataan rohaniawan gereja mana pun bukanlah patokan kebenaran.  

4. Iman Kristen tidak berdiri di atas fenomena/kejadian tertentu.

Dalam “kekristenan” ada banyak fenomena/peristiwa yang katanya terjadi padahal tidak. Katanya Maria menampakkan diri di Lordes, katanya pendeta “A” berjalan di atas air, katanya Yesus menampakkan diri di atas awan, dll. Semua fenomena ini adalah cara si Iblis menipu manusia. Ada juga yang benar-benar terjadi tetapi bukan dari Tuhan, melainkan dari si iblis untuk memanipulasi manusia.

5. Iman Kristen tidak berdiri di atas pengalaman pribadi seseorang.

Si “A” bersaksi bahwa dia dibawa Tuhan 7 kali ke Sorga, si “B” berkata dia bertemu secara langsung dengan Lusifer, si “C” tidak mau kalah, berkata dia dibawa Tuhan ke Neraka. Si “D” bersaksi, Tuhan langsung berbicara kepadanya, bahwa kiamat akan terjadi 22 Oktober 1884. Si “E” (pemimpin gereja besar di dunia) bermimpi bahwa Tuhan berkata kepadanya Yesus akan datang, sebarkan informasi ini kepada beberapa orang, kalau tidak disebarkan akan mendapat celaka dan kalau disebarkan akan mendapat berkat dari Tuhan.

Kesaksian pengalaman pribadi ini, bukanlah ukuran kebenaran bagi orang percaya lainnya. Kesaksian seperti ini justru menjadi ajang penyesatan dibanyak gereja.

6. Iman Kristen tidak  berdiri di atas buku-buku sejarah gereja tertentu.

Sejarah gereja tertentu hanyalah sebagai pengetahuan umum, untuk mengetahui sejarah pemikiran dan tokoh-tokoh dalam gereja. Sejarah gereja bukanlah dasar iman Kristen. Sejarah dapat ditulis ulang oleh para penguasa sesuai agenda mereka, dan banyak penulis sejarah gereja menulis sesuai dengan ajaran yang ia anut.

7. Iman Kristen tidak berdiri di atas “Tradisi suci” di luar Alkitab.

Tradisi suci yang benar adalah yang tertulis dalam Alkitab. Semua tradisi yang tidak tertulis dalam Alkitab bukanlah tradisi suci melainkan tradisi hasil karya rohaniawan gereja tertentu yang dilestarikan dari turun temurun.

Dasar iman orang percaya adalah Alkitab bukan tradisi gereja tertentu. Tidak ada keharusan cara beribadah atau cara berpakaian gereja tertentu menjadi ukuran bagi gereja lain. Iman Kristen bukan tentang tata cara ibadah dan cara berpakaian jemaat mula-mula tetapi tentang ajaran. Alkitab hanya memberikan syarat dalam sebuah jemaat harus “sopan dan teratur”. Semua suku bangsa boleh beribadah sesuai budaya mereka masing-masing dan tidak perlu harus mengikuti cara beribadah bangsa Yunani atau pun bangsa Yahudi.

8. Iman Kristen tidak berdiri di atas buku-buku apokrifa atau pun deuterokanonika.

Orang Yahudi adalah sebuah bangsa yang memiliki banyak tulisan, tetapi bangsa ini juga merupakan bangsa pendongeng. Ada 1001 cerita dongeng yang dikarang sebagai bahan ajar. Bangsa Yahudi juga banyak menulis tentang kisah-kisah kepahlawanan. Kisah-kisah ini ditulis menjadi sebuah buku. Buku-buku ini dikenal sebagai apokrifa (tersembunyi).

Ada beberapa aliran “Kristen” yang menambahkan apokrifa sebagai kitab mereka. Bangsa Yahudi sendiri tidak mengakui buku-buku sejarah (apokrifa) sebagai firman Tuhan. Kristen mula-mula hanya mengakui ke 66 kitab dalam Alkitab sebagai firman Tuhan.

9. Iman Kristen tidak berdiri di atas teologi tertentu.

Seorang teolog dapat menulis jurnal ilmiah atau sebuah buku teologi. Buku-buku teologi seperti buku teologi sistematik, teologi dogmatik, teologi biblika, hanyalah sebuah metode untuk memahami isi Alkitab secara urut atau tersistem.

Tentu saja kita boleh membaca semua buku-buku teologi tetapi semua itu bukanlah dasar iman kita. Buku-buku ini hanya alat untuk memahami bagian-bagian Alkitab. Karena sifatnya hanyalah sebuah “alat” maka tidak boleh dijadikan sebagai ukuran iman. Banyak sekali orang Kristen terutama mahasiswa teologi yang lebih percaya  buku teologi dibanding Alkitab. Padahal di buku-buku teologilah berkumpul semua jenis pemikiran liar yang menolak Alkitab sebagai satu-satunya patokan kebenaran.

Fondasi Iman Kristen hanya Alkitab

  • Tuhan  mengilhamkan Alkitab.

Tuhan tidak mengilhamkan semua hal yang kita sudah baca di atas, Tuhan hanya mengilhamkan Alkitab. Alkitab adalah firman Tuhan karena setiap huruf dan kata dalam Alkitab adalah ilham dari Roh Kudus. Tuhan memakai pribadi penulis untuk menulis Alkitab, tetapi mereka tidak bisa menambahkan pemikiran mereka saat menuliskan firman Tuhan.

Tuhan mengilhamkan firman-Nya (II Timotius 3:16) hanya di dalam ke-66 kitab dalam Alkitab. Di luar dari ke 66 kitab, itu bukanlah firman Tuhan.

  • Tuhan memelihara Alkitab.

Tuhan tidak bisa salah. Alkitab adalah firman Tuhan. Karena itu Alkitab tidak bisa salah. Tuhan memelihara Firman-Nya dari zaman Adam sampai sekarang ini dengan cara menyalin ulang Firman itu. Tuhan  memakai orang-orang kudus-Nya untuk menyalin firman Tuhan dari wadah yang satu ke wadah yang lain. Dari batu ke kulit binatang, dari kulit binatang ke papyrus, dari papyrus ke kertas, dari kertas ke elektronik.

Wadah firman Tuhan silih berganti tetapi firman Tuhan kekal untuk selama-lamanya (Mazmur119:89). Tuhan tetap memelihara firman-Nya sampai saat ini.

Kepustakaan:

  1. Henry C. Thiessen, direvisi oleh Vernon D. Doerksen, Sistematik Teologi (Gandum Mas, 2010).
  2. Norman Geisler, Sistematic Theology in one Volume (Bethany House Publisher, 2011).
  3. Ronald H. Nash, Iman dan Akal Budi (Momentum, 2001).
  4. Suhento Liauw, Doktrin Alkitab Alkitabiah (Gereja Baptis Independen Alkitabiah Graphe, 2001).
  5. Timothy Ware, Mari Mengenal Kekristenan Timur (Satya Widya  Graha, 2001).

Kemana saya setelah mati?

Salah satu pertanyaan terbesar dalam sejarah umat manusia adalah “Kemana saya setelah mati”? Banyak orang memikirkan pertanyaan ini dan belum menemukan jawaban yang pasti. Dalam ketidakpastian itu, manusia mencari jawabannya dalam agama, filsafat, sains, bahkan dalam dirinya sendiri.

Berharap mereka menemukan jawabannya. Beberapa orang menyerah dalam ketidaktahuan dan beberapa merasa sudah menemukan jawabannya, sekalipun hanya sekedar ikut-ikutan saja, karena apa kata agamanya, dan apa kata mayoritas. Tetapi banyak juga orang yang tidak peduli (karena tidak tahu) dengan pertanyaan tersebut, bagi mereka jawaban atas pertanyaan tersebut tidak sepenting mencari “sesuap nasi” atau kelangsungan bisnisnya. Tetapi apakah benar ada jawaban yang pasti atas pertanyaan tersebut? Kalau ada, dimana?

Kita akan melihat jawaban orang pada umumnya dan jawaban yang benar atas pertanyaan tersebut dan setelah Anda melihatnya, Anda dapat menentukan dimanakah seharusnya posisi Anda.

1.Saya tidak tahu.

Kemana saya setelah mati? Umumnya orang akan menjawab saya tidak tahu kemana saya setelah mati. Mengapa tidak tahu? Karena tidak ada yang memberitahu dia apa yang seharusnya dia ketahui. Dan bisa jadi orang tersebut tidak mau mencari jawaban atas pertanyaan “Kemana saya setelah mati”?

Ketidaktahuan adalah sebuah kejahatan atau dengan kata lain ketidaktahuan adalah dosa. Sama seperti saat seorang yang melanggar lampu lalu lintas karena tidak tahu peraturan yang ada, orang ini akan tetap didenda, alasan ketidaktahuannya tidak dapat diterima karena hal itu sudah seharusnya dia ketahui sebagai warga negara.

Demikian jugalah halnya dengan jawaban atas pertanyaan “Kemana saya setelah mati”? Jika dia tidak tahu jawaban atas pertanyaan itu, dia akan jatuh pada penghukuman kekal, karena saat dia tidak tahu “kemana saya setelah mati” maka dia tidak akan menemukan jawaban yang tepat. Saat dia tidak menemukan jawaban yang tepat, dia pasti akan menemukan jawaban yang salah (saya tidak tahu) yang akan menuntunnya kepada kegelapan.

Masalah mati kemana, bukan urusan saya (juga merupakan jawaban banyak orang). Tetapi apakah benar demikian? Tentu ini adalah urusan semua orang, karena semua orang pasti akan mati. Saat kematian sudah tersenyum kepada seseorang, sesaat lagi ia mengetahui dimana ia akan menghabiskan kekekalan, di Neraka atau di Sorga.

Karena putus asa maka jawaban, “itu bukan urusan saya” menjadi jawaban klise yang diutarakan oleh banyak orang. Tetapi jika kita bertanya  apakah benar jawaban atas pertanyaan “Setelah saya mati kemana”, bukan urusannya? Bukankah dia juga pasti akan mati? Kalau dia  pasti akan mati, dia harus menjawab pertanyaan tersebut. Kalau dia masih tidak peduli akan adanya jawaban yang benar, ia akan menyesal selama-lamanya dalam kekelaman api Neraka. Karena jawaban “saya tidak tahu akan menuju Neraka”.

2. Hanya Tuhan yang tahu.

Biasanya orang beragama akan menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban “Hanya Tuhan yang tahu”. Jawaban ini tidak berbeda dengan jawaban yang pertama “Saya tidak tahu”. Jawaban yang kedua ini hanya “melemparkan” jawaban kepada Tuhan atas ketidaktahuannya. Dan karena dia beragama maka dia berkata seperti itu. Memang terlihat rohani tetapi tetap saja dia tidak tahu jawabannya. Lagi-lagi orang seperti ini bersembunyi dibalik kata-kata rohani yang dia pikir benar.

Bukankah seharusnya dia bertanya, mengapa hanya Tuhan yang tahu? Tidak dapatkah manusia juga tahu (jawaban dari pertanyaan tersebut).

Perasaan orang beragama akan terasa lega dengan jawaban “hanya Tuhan yang tahu”. Tetapi ini menipu diri sendiri. Ini merupakan tipuan dari agama atau ajaran tertentu agar dia tetap memegang agama tersebut. Jika hanya Tuhan yang tahu maka manusia tidak memiliki kepastian kemana dia setelah meninggal. Jika Ia tidak memiliki kepastian kemana ia setelah  meninggal maka dia sedang berjalan dalam ketidakpastian dan sangat mungkin ketidakpastian itu menuju kesesatan. Kesesatan pasti menuju ke Neraka.

Tetapi ketidakpastian ini pun akan dianggap sebagai sesuatu yang benar, karena dia dilindungi oleh agama yang dia pegang. Apalagi agama itu diakui oleh negara atau banyak orang yang menjadi penganut agama tersebut. Dia seolah-olah “damai” dalam kerumunan tetapi dia tidak tahu “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” Kalau dia tidak menemukan jawaban yang pasti atas pertanyaan tersebut ia akan menghabiskan kekekalan dalam penyesalan dan dalam siksaan api yang tak terkatakan.

Dapatkah Anda memahami orang yang tidak pasti atau ragu-ragu tentang keselamatannya itu disebut rohani? Tentu saja, tidak! Ini namanya “trik menipu diri sendiri”.

  • Agama pada umumnya.

Bagi banyak orang, agama hanya sekedar tempat berlindung. Di mana orang-orang merasa nyaman dengan agamanya, karena ada perlindungan dari negara. Negara menyetujui banyak agama, agama-agama ini sah secara hukum. Karena agama ini sah secara hukum orang berpikir itu dapat menyelamatkannya.

Ada juga orang yang percaya agamanya berasal dari Tuhan tetapi tidak memberikan kepastian akan keselamatan. Namun, ada juga yang memberikan kepastian tetapi kepastian yang tidak masuk di akal atau tidak sesuai dengan akan sehat dan moralitas pada umumnya. Seperti contoh “mati saat membunuh orang yang beragama lain, pasti akan masuk Sorga”.

Ada banyak agama yang menjanjikan para pengikutnya pada hal yang tidak pasti. Hal itu dapat diketahui dari jawaban mereka yang tidak pasti seperti “Mudah-mudahan masuk Sorga”, “Jika Allah berkehendak” dan banyak jawaban lainnya dalam ketidakpastian. Orang-orang seperti ini tetap merasa ada tempat perlindungan atas jiwanya setelah mati sekalipun sifatnya hanya “mudah-mudahan saja”.

Baginya percaya pada agama tertentu yang menjanjikan keselamatan yang sifatnya mudah-mudahan itu sudah cukup. Malang benar orang seperti ini, tidak memiliki kepastian akan keselamatannya. Dia hanya memiliki agama dan bahkan “tuhan” tetapi tidak memiliki keselamatan. Apa gunanya semua itu?

Saat  orang beragama HANYA karena orang tua, karena masyarakat, karena negara, karena budaya (adat istiadat), karena pertemanan (pergaulan), karena pasangan hidup, karena bisnis, karena diiming-imingi harta dan ada yang karena paksaan dari oknum lain, dsbnya, orang-orang seperti ini sedang berjalan dalam gelap namun berharap tetap dalam jalan yang benar. Ini tidak mungkin.

  • Agama Kristen.

Agama Kristen tidak menyelamatkan siapapun. Ada perbedaan antara “Beragama Kristen” karena keharusan dari negara (harus beragama) dengan “Menjadi murid Kristus”. Yang pertama tidak yakin selamat karena agama hanya identitas bernegara saja atau hanya karena itu adalah agama orang tua. Sementara yang kedua tahu bahwa dia sudah selamat, karena dia mengimani bahwa pengorbanan Kristus telah menghapus seluruh dosanya.

 Ada gereja yang berkata di luar gerejanya tidak ada keselamatan. Pernyataan seperti ini hanyalah alat mereka untuk tetap mengikat orang pada kesesatan gerejanya, karena disepanjang Alkitab tidak pernah ada konsep “gereja dapat menyelamatkan”. Umumnya gereja seperti ini adalah gereja-gereja mati, gereja yang banyak mengajarkan apa kata “bapak gereja” mereka, apa kata tradisi dan adat istiadat, bukan apa yang tertulis dalam Alkitab (66 kitab).

Banyak penganut gereja-gereja seperti ini, yang tidak  yakin mereka selamat. Rohaniawan gereja mereka saja tidak yakin selamat, bagaimana mungkin jemaatnya yakin selamat. Inilah yang disebut “orang buta menuntun orang buta”. Jika orang buta menuntun orang buta maka kedua-duanya pasti akan menuju kebinasaan kekal.

3. Tuhan memberitahu, saya bisa ke Sorga.

Tuhan tidak mungkin membiarkan manusia dalam ketidakpastian. Dia bukan Tuhan yang “jauh di sana” yang tidak pernah masuk ke dalam kehidupan manusia. Dia bukan Tuhan hasil ciptaan manusia yang tidak dapat memperlihatkan diri-Nya. Kalau Tuhan tidak memperlihatkan diri-Nya, lalu bagaimana manusia tahu tentang Tuhan yang  benar?

Tuhan menyatakan diri-Nya dalam diri Yesus Kristus. Beribu-ribu tahun yang lampau Dia datang ke dalam dunia. Tuhan yang mulia merendahkan diri-Nya menjadi manusia dan mati di kayu salib untuk menebus dosa seisi dunia. Alkitab mencatat “Dan  Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan  bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia. I  Yohanes 2:2”. Tuhan Yesus juga berkata “Akulah jalan  dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Yohanes 14:6”

Saya tahu saya selamat karena Tuhan berkata “kamu TAHU, kamu selamat. “Semua ini kutuliskan kepada kamu, supaya  kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal. I Yohanes 5:13”. Alkitab  juga mencatat “Pada  waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang kita lakukan…Titus 3:5”. Bagi orang yang sudah diselamatkan perbuatan baik adalah bukti bahwa ia sudah selamat BUKAN syarat untuk memperoleh keselamatan.

Berilah dirimu diselamatkan, bertobat dan percayalah kepada pengorbanan Yesus Kristus yang telah mati bagimu. Saat kita menyadari betapa pendeknya waktu dan panjangnya keabadian, maka hal yang paling penting adalah mengetahui “Saya mati kemana?” dan bahwa tujuan akhirat kita telah terjamin dengan aman, yaitu mengetahui bahwa kita menuju kehidupan di dalam Surga dan bukan di dalam Neraka.

Kepustakaan:

  1. Rick Warren, The Purpose Driven Life (Gandum Mas, 2005).
  2. John F.  MacArthur, Kemuliaan Sorga (Gospel Press, 2005).
  3. J.I. Packer, Knowing God (ANDI, 2008).
  4. Philip Yancey, Bukan Yesus Yang Saya Kenal (Professional Books, 1997).
  5. Bill Hybels, Jujur Terhadap Allah (ANDI, 1990).