Tuhan melarang dosa atau menetapkan, mengizinkan, menciptakan, membiarkan dosa?

Sebelum dunia jatuh ke dalam dosa, Tuhan sudah MELARANG manusia untuk tidak melakukan dosa, tetapi anak-anak manusia memunculkan banyak teori ini dan itu, mereka menolak untuk setuju dengan apa yang Tuhan tulis dengan jelas, mereka lebih suka mengutarakan pemikiran mereka. Dalam tulisan ini, kita akan melihat beberapa pemikiran mereka dan akan menjawab kesalahan pemikiran mereka.  

  • Tuhan menetapkan dosa.

Alkitab tidak pernah mencatat Allah menetapkan dosa dan tidak pernah mencatat Allah menetapkan segala sesuatu, termasuk dosa. Pandangan Allah menetapkan segala sesuatu termasuk dosa ada dalam teologi gereja reformed. Allah menetapkan dosa, ini sama dengan menjadikan Allah menjadi dalang dari terjadinya dosa atau dalam dunia kejahatan ini disebut sebagai “otak kejahatan”. Dalam pengadilan, orang yang menetapkan kejahatanlah yang dihukum paling berat karena dia yang menetapkan kejahatan tersebut, walaupun bukan dia yang secara langsung melakukan kejahatan tersebut.

Kalau Tuhan yang menetapkan dosa ada, itu artinya Tuhan juga harus disalahkan, karena Dia yang menetapkan dosa itu terjadi. Ini namanya menjadikan Tuhan sebagai “kambing hitam”.

Allah memang menetapkan banyak hal TETAPI Allah tidak menetapkan SEMUA HAL. Misalnya Allah menetapkan saya lahir dalam keluarga Efendi Simamora. Tetapi bukan Allah yang menetapkan saya mencuri uang Mama saya. Contoh lainnya, Allah menetapkan pemerintahan di dunia ini, tetapi bukan Allah yang menetapkan peraturan pemerintahan yang melarang menyembah Tuhan Yesus (kita dapat lihat ini di negara-negara tertentu).

Tuhan berfirman melalui rasul Yohanes “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa (1 Yohanes 2:1)”. Bagaimana mungkin Tuhan yang menetapkan dosa namun Dia juga yang melarang-Nya. Ini pemikiran yang menyesatkan, karena selain tidak ada dasar Alkitabnya juga melawan firman Tuhan yang ditulis “jangan berbuat dosa”.

  • Tuhan menciptakan dosa.

Beberapa orang berkata Tuhan pencipta dosa, kalau dosa tidak diciptakan, tidak mungkin dosa ada. Pandangan ini mirip dengan pandangan “Tuhan menetapkan dosa”, kalau Tuhan tidak menetapkan dosa maka dosa itu tidak ada. Ini merupakan pemikiran yang salah karena Tuhan berkata “Segala yang Dia ciptakan itu sungguh amat baik (Kejadian 1:31)”. Kalau sungguh amat baik, artinya dosa bukanlah ciptaan Tuhan karena dosa itu bukan sesuatu yang baik.

Dosa ada karena manusia menyalahgunakan kehendaknya. Tuhan yang menciptakan hati manusia tetapi bukan Tuhan yang menciptakan kejahatan dalam hati manusia tersebut. Semua kejahatan yang timbul dari dalam hati manusia, itu adalah karena manusia itu sendiri. Saat Tuhan menciptakan manusia kepadanya dikaruniakan kebebasan berpikir, berhendak dan berperasaan. Dengan kemampuan berpikir, berkehendak dan berperasaan itulah manusia bertindak melakukan segala sesuatu bahkan dapat melawan Allah.

Alkitab mencatat Tuhan melarang Adam berbuat dosa “Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya (Kejadian 2:17).” Jika Tuhan yang menciptakan dosa lalu, mengapa Tuhan melarang berbuat dosa? Alkitab tidak pernah menyebut “Tuhan menciptakan dosa”, yang Alkitab tulis adalah Tuhan melarang dosa.

  • Tuhan menyebabkan dosa.

Orang yang memegang pandangan ini berkata “Tuhan yang menyebabkan dosa tetapi tidak secara langsung”. Jadi, menurut mereka Tuhan yang menyebabkan dosa tetapi melalui manusia. Tuhan yang membuat pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat karena itu Tuhan yang menyebabkan dosa. Kalau pohon itu tidak Tuhan ciptakan, maka dosa tidak akan ada.

Kita menjawab, hanya karena Tuhan yang menciptakan pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, tidak berarti Tuhan yang menyebabkan dosa terjadi. Coba pikirkan contoh ini: 1). Hanya karena pemilik perusahaan mobil Honda yang membuat mobil Honda, tidak berarti pemilik mobil Honda yang menyebabkan orang meninggal karena kecelakaan. Orang itu kecelakaan karena dia sendiri atau karena orang lain yang tabrak dia, dia kecelakaan bukan karena pembuat mobil. 2). Hanya karena seorang ibu yang melahirkan anaknya tidak berarti ibu tersebut yang menyebabkan si anak mencuri. Si anak mencuri karena dia sendiri bukan karena ibunya melahirkan dia.

Tuhan Yesus berkata kepada perempuan yang kedapatan berzinah “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi (Yohanes 8:11)”. Kepada orang yang Tuhan sembuhkan dari lumpuhnya 38 tahun, Tuhan berkata “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi (Yohanes 5:14)”. Sangat jelas di sini Tuhan melarang dosa bukan yang menyebabkan dosa. Jika Tuhan yang menyebabkan dosa lalu mengapa Dia melarangnnya? Tidak ada dalam Alkitab yang berkata “Tuhan yang menyebabkan dosa terjadi” yang Alkitab tulis adalah “Tuhan melarang berbuat dosa”.

  • Tuhan mengizinkan dosa.

Pandangan ini banyak diimani oleh orang Kristen. Tetapi ini pandangan yang salah karena Tuhan berkata “Jangan ada padamu Allah lain dihadapan-Ku (Keluaran 20:3)”. Dari satu ayat ini saja kita sudah mengetahui Tuhan tidak mengizinkan berbuat dosa ( dengan menyembah allah lain). Padahal disepanjang Keluaran pasal 20:3-17, semua itu adalah perintah larangan untuk tidak berbuat dosa. Dan larangan ini berlaku atas semua jenis dosa lainnya.

Orang yang mengimani Tuhan mengizinkan dosa harus menjawab pertanyaan ini. Kalau Tuhan mengizinkan pemerkosaan tepat dihadapannya, lalu mengapa dia  melarangnya? Bukankah seharusnya dia mengizinkannya karena menurut imannya Tuhan sudah mengizinkan pemerkosaan itu terjadi. Jika anda tidak mencegah orang tersebut, Anda bermasalah secara moral.

Jika Tuhan mengizinkan dosa, bukankah seharusnya kita merayakannya? Karena dosa itu terjadi atas izin dari Tuhan. Kalau Tuhan yang mengizinkan dosa/kejahatan terjadi, lalu mengapa semua pengadilan di dunia ini menghukum kejahatan? Kalau Tuhan yang mengizinkan seorang anak memukul ibunya, lalu mengapa kamu memarahinya? Bukankah Tuhan sudah mengizinkannya, melakukan pemukulan tersebut?

Orang yang memegang pandangan ini berkata “Kalau Tuhan tidak izinkan dosa, lalu mengapa dosa terjadi”? Jawabannya sederhana sekali, karena manusia melanggar perintah Tuhan. Manusia berbuat dosa dengan cara melanggar hukum Tuhan. Bahayanya, jika Tuhan yang mengizinkan dosa maka Tuhan ada andil atas terjadinya dosa tersebut, karena Dia yang mengizinkannya. Tetapi kita tahu, Tuhan tidak mengizinkan dosa terjadi, Dia melarangnya.

  • Tuhan membiarkan dosa.

Ada juga orang yang berpandangan Tuhan membiarkan dosa terjadi. Mereka berpikir kalau Tuhan tidak biarkan terjadi lalu mengapa terjadi? Ini sudah kita jawab di atas. Mengapa dosa terjadi, karena manusia melanggar perintah Allah. Manusia Tuhan ciptakan dengan kehendak, pikiran dan perasaan karena itu manusia dapat memakai kehendaknya untuk melawan Allah. 

Tuhan berkata kepada Jemaat di Korintus “Sadarlah kembali sebaik-baiknnya dan jangan berbuat dosa lagi (1 Korintus 15:34)”.

Dalam ayat ini, Tuhan sudah berkata “JANGAN BERBUAT DOSA LAGI” itu artinya Dia melarang dosa, BUKAN membiarkan dosa. Larangan berbuat dosa itu artinya tidak membiarkan dosa terjadi. Orang yang berkata “Tuhan membiarkan dosa”, seolah-olah Tuhan tidak mau tahu, atau Dia berpangku tangan tanda tak peduli. Tetapi Alkitab berkata dengan sangat jelas “Tuhan melarang dosa”.

Alkitab mencatat “Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk (Roma 1:28).” Dalam ayat ini Tuhan tidak membiarkan orang melakukan dosa tetapi menyerahkan mereka kepada pikiran mereka yang terkutuk. Keinginan hati merekalah yang membuat dosa itu terjadi. Tuhan sudah melarangnya tetapi hatinya tetap berkeras mau melakukan dosa tersebut, kerena itu Tuhan menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka.

Orang tua yang baik tidak mungkin menetapkan anak-anaknya untuk berbuat dosa. Orang tua yang baik juga tidak mungkin  menyebabkan anak-anaknya berbuat dosa. Orang tua yang baik tidak mungkin membiarkan anak-anaknya melakukan dosa. Orang tua yang baik juga tidak akan mengizinkan anak-anaknya berbuat dosa. Jika orang tua yang baik saja, tidak melakukan semua hal itu, APALAGI Tuhan yang di sorga.

Tuhan memang membiarkan dosa dalam pengertian tidak langsung di hukum karena hukuman final atas semua dosa adalah di neraka. Tetapi Tuhan tidak membiarkan manusia melakukan dosa dalam pengertian, seolah-olah Dia tidak peduli saat pembunuhan terjadi. Seorang anak tidak boleh berkata “Tuhan membiarkan ayah saya dibunuh”. Karena faktanya Tuhan melarang manusia membunuh ayahnya tersebut.

Tuhan TIDAK menetapkan, menciptakan, menyebabkan, mengizinkan, dan membiarkan dosa terjadi. Yang benar adalah Tuhan MELARANG dosa terjadi. Tuhan melarang manusia untuk melakukan dosa. Hal ini sudah berlaku sejak manusia belum jatuh ke dalam dosa sampai Alkitab selesai ditulis (selama-lamanya), Tuhan melarang manusia berbuat dosa.

Kepustakaan:

  1. Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 2 (ANDI, 1991).
  2. Jeffrey Khoo, Biblical  Separation: Doctrine of Church Purification and Preservation (Far Eastern  Bible College  Press, 2004).
  3. Henry C. Thiessen, direvisi oleh Vernon D. Doerksen, Sistematik Teologi (Gandum Mas, 2010).
  4. Norman Geisler, Sistematic Theology in one Volume (Bethany House Publisher, 2011).
  5. Suhento Liauw, Doktrin Gereja Alkitabiah (Gereja Baptis Independen Alkitabiah Graphe, 1996).